Berita & Artikel

Berita & Artikel

Kumpulan berita dan artikel terbaru terkait HKI, merek, paten, dan pengembangan bisnis.

 
 

Temukan Berita & Artikel

Merek Sebagai Agama Modern: Ketika Brand Berubah Menjadi Sistem Kepercayaan Sosial

20 - May - 2026
Merek Sebagai Agama Modern: Ketika Brand Berubah Menjadi Sistem Kepercayaan Sosial

Dr. Ichwan Anggawirya, S.Sn., S.H., M.H.

Di dalam teori bisnis klasik, merek umumnya dipahami sebagai identitas komersial yang berfungsi membedakan barang atau jasa milik satu pelaku usaha dengan pelaku usaha lainnya. Namun dalam praktik branding kontemporer, sebagian merek besar dunia telah berkembang jauh melampaui fungsi identifikasi produk semata.

Pada level tertentu, merek tidak lagi hanya menjual barang, melainkan membangun simbol, identitas, komunitas, loyalitas emosional, hingga rasa memiliki yang sangat kuat di dalam benak konsumennya. Fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian brand global mulai bekerja menyerupai sistem kepercayaan sosial di dalam kehidupan masyarakat modern.

Tentu istilah “agama” di dalam pembahasan ini tidak dimaksudkan dalam pengertian teologis maupun spiritual secara harfiah, melainkan sebagai metafora ilmiah untuk menggambarkan bagaimana sebagian merek mampu membangun fanatisme, ritual konsumsi, identitas kelompok, dan emotional attachment yang sangat kuat di dalam perilaku manusia kontemporer.

Logo sebagai Simbol Identitas Sosial

Di dalam sejarah peradaban manusia, simbol selalu memiliki kekuatan psikologis yang besar. Bendera, lambang kerajaan, hingga atribut kelompok sejak lama digunakan untuk membangun identitas kolektif dan rasa memiliki.

Branding modern bekerja melalui mekanisme yang relatif serupa. Logo tidak lagi sekadar menjadi penanda produk, tetapi telah berkembang menjadi simbol identitas sosial. Seseorang yang menggunakan produk tertentu sering kali tidak lagi sekadar membeli fungsi barangnya, melainkan juga membeli makna simbolik yang melekat pada merek tersebut.

Dalam kondisi seperti ini, konsumen bukan hanya berkata, “Saya menggunakan produk ini,” tetapi secara psikologis mulai merasa, “Saya adalah bagian dari identitas merek ini.” Fenomena tersebut terlihat jelas pada berbagai merek global seperti Apple, Harley-Davidson, maupun Rolex, di mana loyalitas konsumennya sering kali melampaui pertimbangan rasional atas fungsi produk semata.

Ritual Konsumsi dan Fanatisme Brand

Di dalam berbagai sistem kepercayaan sosial, ritual memiliki fungsi untuk memperkuat ikatan emosional antar anggota kelompok. Menariknya, pola yang hampir serupa juga muncul di dalam budaya konsumsi modern.

Peluncuran produk baru, antrean panjang saat perilisan, limited edition, event komunitas, hingga tradisi unboxing di media sosial pada dasarnya merupakan bentuk ritual konsumsi yang memperkuat emotional engagement antara konsumen dengan merek.

Fenomena antrean produk baru Apple, misalnya, sering kali tidak lagi semata berkaitan dengan kebutuhan teknologi praktis. Dalam banyak kasus, terdapat unsur psychological belonging dan prestige participation yang sangat kuat. Konsumen merasa menjadi bagian dari komunitas eksklusif dengan identitas budaya tertentu.

Pola serupa juga terlihat pada komunitas pengguna Harley-Davidson di berbagai negara. Secara fungsional, produk tersebut hanyalah kendaraan mekanis, namun melalui kekuatan branding, ia berhasil berkembang menjadi simbol gaya hidup, kebebasan, dan brotherhood.

Luxury Brand dan Hierarki Status Sosial

Fenomena “merek sebagai agama kontemporer” bahkan tampak lebih kuat di dalam industri luxury brand.

Dalam konteks ini, produk sering kali tidak lagi dibeli terutama karena fungsi utilitariannya, melainkan karena kekuatan simbolik yang melekat pada merek tersebut.

Hermès, Louis Vuitton, maupun Richard Mille pada dasarnya tidak sekadar menjual tas atau jam tangan. Ketiga merek tersebut menjual prestige, exclusivity, symbolic hierarchy, dan social identity.

Secara rasional, fungsi tas mewah tidak berbeda secara fundamental dengan tas biasa, dan fungsi jam tangan modern tetap sama-sama menunjukkan waktu. Namun dalam praktik sosial, produk-produk luxury tersebut memiliki nilai simbolik yang jauh melampaui fungsi materialnya.

Menariknya, sebagian merek mewah justru membangun kekuatannya melalui keterbatasan akses. Waiting list, distribusi selektif, boutique eksklusif, hingga harga yang sangat tinggi bukan semata hambatan bisnis, melainkan bagian dari strategi psikologis untuk memperkuat prestige perception. Dalam konteks tersebut, produk berubah menjadi alat komunikasi simbolik di dalam struktur sosial masyarakat modern.

Ketika Konsumen Membela Merek Layaknya Ideologi

Fenomena menarik lainnya adalah munculnya apa yang dalam dunia pemasaran dikenal sebagai brand evangelist, yaitu konsumen yang secara sukarela membela, mempromosikan, bahkan menyebarkan “keyakinan” mengenai suatu merek secara fanatik.

Dalam banyak situasi, kritik terhadap suatu merek bahkan dapat dirasakan sebagai kritik terhadap identitas pribadi konsumennya sendiri. Hal tersebut menunjukkan bahwa merek telah berhasil masuk ke dalam struktur ego dan self-image konsumennya. Pada fase inilah kekuatan branding bekerja pada level paling dalam: bukan sekadar memengaruhi keputusan membeli, tetapi juga membentuk cara manusia melihat dirinya sendiri di dalam lingkungan sosial.

Persepsi Sebagai Aset Utama dalam Ekonomi Modern

Fenomena tersebut menjelaskan mengapa valuasi sebagian perusahaan global saat ini lebih banyak ditopang oleh kekuatan mereknya dibandingkan aset fisiknya semata. Dalam ekonomi kontemporer, persepsi dapat menjadi aset yang jauh lebih bernilai dibandingkan material.

Karena itu pula, persaingan bisnis dewasa ini pada dasarnya bukan lagi sekadar perang produk, melainkan perang persepsi, perang simbol, dan perang pengaruh psikologis di dalam benak manusia. Merek yang paling kuat sering kali bukan merek yang memiliki produk paling kompleks, melainkan merek yang paling berhasil membangun makna kolektif di dalam pikiran masyarakat.

Branding telah berkembang jauh melampaui fungsi identitas komersial tradisional. Pada level tertentu, sebagian merek besar dunia berhasil membangun sistem simbolik yang menyerupai struktur kepercayaan sosial, lengkap dengan loyalitas emosional, ritual konsumsi, komunitas, fanatisme, hingga identitas kolektif di dalamnya. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kekuatan utama suatu merek sesungguhnya tidak selalu terletak pada produknya, melainkan pada kemampuannya membangun makna di dalam pikiran manusia.

Sebab dalam praktiknya, manusia tidak selalu membeli apa yang paling dibutuhkan secara rasional, tetapi kerap membeli sesuatu yang mampu membuat dirinya merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

IndoTrademark IP Law & Brand Strategy

dibaca: 308 kali

TAG :

pendaftaran merekmendaftarkan merekcek merekdaftar merekpengacara merekbranding strategy
 

Berita & Artikel Terkait

Berita & Artikel Lainnya

1 2 3 4 5 »
 

Mediasi Pada Pidana Hak Cipta, Menguntungkan Atau Merugikan Korban?

Oleh: Ichwan Anggawirya Hak cipta merupakan hak kekayaan yang bersifat immateriil dan merupakan hak kebendaan. Salah satu sifat atau asas yang melekat pada hak kebendaan adalah asas droit de suite, asas hak mengikuti bendanya. Hak untuk menuntut akan mengikuti benda tersebut secara terus-menerus di tangan siapapun benda itu berada. Perlindungan hak cipta sebagai hak kebendaan...

Pertarungan Dua Mawar Akhirnya Dimenangkan Oleh Wardah

Wardah sebagai pencetus dan penemu pertama formulasi cairan pengharum cucian merek Mawar Super Loundry kini dapat bernafas lega, gugatan pembatalan merek yang telah dimenangkan di tingkat Pengadilan Niaga kini telah inkrah dengan adanya keputusan Mahkamah Agung Nomor 161 K/Pdt.Sus-HKI/2019 yang dalam keputusannya menolak permohonan kasasi dari pemohon kasasi atau yang sebelumnya sebagai pihak...

Ichwan Anggawirya: Audisi Beasiswa Bulutangkis PB Djarum Tidak Mengeksploitasi Anak

Audisi pencarian bakat Bulutangkis yang dilakukan oleh Persatuan Bulutangkis (PB) Djarum sempat menjadi polemik karena adanya komentar yang menyatakan PB Djarum mengeksploitasi anak dengan UU No 35 Tahun 2014.   Praktisi dan pakar HAKI Magister Ilmu Hukum Universitas Bung Karno, Ichwan Anggawirya di forum grup diskusi senin dikampus Magister Ilmu Hukum Universitas Bung Karno,...

Sengketa Merek Mawar Super Laundry

Siti Wardah, pengusaha cairan pembersih untuk laundry pakaian mengajukan gugatan pembatalan merek 'MAWAR SUPER LAUNDRY'. Gugatan itu didaftarkan di Pengadilan Niaga Jakarta. "Klien saya ajukan gugatan pembatalan karena pendaftaran merek dilakukan dengan itikad tidak baik dan tidak jujur," kata kuasa hukum penggugat, Ichwan Anggawirya kepada Gatra.com di Jakarta, Sabtu,...

80 Tahun Sengketa Hak Cipta Lagu "Happy Birthday to You" Berakhir

Los Angeles - Lagu “Happy Birthday to You” mungkin sudah biasa didengar dalam pesta-pesta ulang tahun. Namun, ternyata, di balik itu, terdapat kesangkutmarutan siapa yang berhak memegang hak cipta. Pencipta melodi Mildred Hill bersaudara kah? Yang pertama kali membuat melodi lagu tersebut dengan judul awal 'Good Morning to All' untuk anak-anak TK pada tahun 1889, atau yang...

Sengketa Merek, Perusahaan Kereta Dorong Bayi Jerman Gugat Cybex Lokal

Produsen kereta dorong bayi asal Jerman, Cybex gmbH kaget pendaftaran merek di Indonesia tidak disetujui Kementerian Hukum dan HAM karena sudah ada stroller dengan merek yang mirip dengan merek Cybex. Atas hal itu, langkah hukum pun diambil.   Kasus bermula saat Cybex gmbH mengajukan permohonan pendaftaran merek ke Direktorat Merek Kemenkum HAM pada 19 Juni 2015. Selain di...

Sengketa Merek, Mobil BMW Kalah Lawan Baju BMW dari Penjaringan

Mahkamah Agung (MA) tidak menerima Peninjauan Kembali (PK) perusahaan mobil asal Jerman, BMW. Alhasil, Henrywo Yuwijono kini bernapas lega memproduksi merek baju BMW alias Body Man Wear.   Kasus bermula saat perusahaan Beyerische Motoreen Werke (BMW) Aktiengesellschafft menggugat warga Muara Karang, Penjaringan, Jakarta Utara, Henrywo. Perusahaan yang bermarkas di Munich, Jerman...

Lois Spanyol gagal batalkan merek lokal

Jakarta. Pemegang lisensi merek dagang Lois di Indonesia PT Intigarmindo Persada gagal membatalkan merek Newlois dan Redlois milik pengusaha lokal Agus salim setelah Pengadilan Niaga Jakarta Pusat menolak gugatannya, Selasa (31/5).   "Mengadili, menolak gugatan penggugat untuk seluruhnya," ungkap ketua majelis hakim Didiek Riyono dalam amar putusannya. Dalam...

Led Zeppelin Menang Gugatan Hak Cipta Lagu Stairway to Heaven

Grup music legendaris Led Zeppelin memenangi kasus gugatan hak cipta yang dilayangkan terhadap anggota grup band rock asal Inggris itu, setelah juri menolak klaim bahwa petikan gitar pembuka Stairway to Heaven diambil dari band asal AS, Spirit.   Keputusan juri, yang menemukan perbedaan substansial antara Stairway to Heaven dan lagu instrumental Spirit Taurus, diambil setelah...

Dituduh Jiplak "Stairway to Heaven", Led Zeppelin Jalani Sidang di AS

LOS ANGELES, Dua personel grup musik legendaris Led Zeppelin, Jimmy Page dan Robert Plant, akan menghadiri sidang yang digelar pada Selasa (13/6/2016), terkait kasus tudingan "pencurian" lagu ternama, "Stairway to Heaven", yang dilontarkan sebuah grup musik asal AS.   Spirit, grup musik psychedelic asal Los Angeles yang eksis pada masa yang sama dengan Led...

Butuh Konsultasi Gratis?

Tim expert kami siap membantu Anda memilih layanan yang tepat untuk kebutuhan bisnis