Tidak semua merek lahir melalui pola yang sama. Ada brand yang dibangun dari riset pasar, strategi pemasaran, dan kekuatan modal yang besar. Namun ada pula merek yang tumbuh perlahan dari perjalanan hidup, pengalaman pribadi, serta cerita yang bergerak dari satu orang ke orang lainnya hingga akhirnya membentuk kepercayaan yang sangat kuat di tengah masyarakat.
KUTUS KUTUS merupakan salah satu contoh menarik bagaimana sebuah merek dapat berkembang bukan hanya sebagai produk, tetapi sebagai cerita yang hidup dan terus diwariskan melalui pengalaman para penggunanya.
Di balik nama KUTUS KUTUS, terdapat perjalanan hidup almarhumah ibu Lilies Susanti Handayani, seorang perempuan asal Klaten yang sejak kecil telah akrab dengan budaya jamu dan ramuan herbal tradisional. Lingkungan tempat ia tumbuh membentuk kedekatan dengan berbagai pengetahuan pengobatan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.
Ketika kemudian menetap di Bali, perjalanan hidup tersebut tidak langsung berubah menjadi kisah sukses besar. Semuanya dimulai secara sederhana melalui usaha kecil bersama keluarga. Namun justru dari titik inilah identitas KUTUS KUTUS mulai terbentuk secara alami.
Menariknya, sosok Ibu Lilies dikenal sebagai pribadi yang pendiam dan tidak banyak tampil di ruang publik. Dalam perspektif branding modern, karakter seperti ini justru sering melahirkan kesan autentik yang sulit direkayasa. Publik pada umumnya lebih mudah membangun kepercayaan terhadap brand yang terasa memiliki perjalanan nyata dibanding merek yang semata-mata dibentuk melalui citra pemasaran.
Perjalanan tersebut kemudian dipadukan dengan pendekatan bisnis yang lebih modern melalui peran putranya, Fazli Hasniel Sugiharto, sebagai pemilik merek yang mengembangkan aspek manajemen, distribusi, dan positioning brand secara lebih luas. Perpaduan antara akar tradisional dan pendekatan bisnis modern inilah yang kemudian membuat KUTUS KUTUS berkembang pesat serta memiliki identitas yang sangat khas.
Dalam banyak kasus, produk herbal sering tampil dengan pendekatan yang serupa satu sama lain. Namun KUTUS KUTUS berhasil membangun diferensiasi yang lebih dalam karena tidak hanya menjual fungsi produk, melainkan juga membangun narasi yang melekat kuat di benak masyarakat. Di titik inilah sebuah merek mulai bergerak melampaui sekadar fungsi produknya.
Brand yang hanya lahir dari proses produksi biasanya bersaing melalui harga, kemasan, atau promosi. Sebaliknya, brand yang memiliki cerita cenderung membangun emotional connection yang lebih kuat dengan konsumennya. Orang mungkin lupa pada iklan yang mereka lihat, tetapi sering kali mengingat cerita yang terasa nyata dan autentik.
Dalam dunia branding, kondisi seperti ini sering disebut sebagai terbentuknya brand mythology, yaitu ketika sebuah merek mulai memiliki cerita, pengalaman, dan persepsi yang hidup di tengah masyarakat. Legenda dalam konteks branding bukan berarti mitos yang dibuat-buat, melainkan akumulasi pengalaman dan narasi yang terus diwariskan melalui word of mouth selama bertahun-tahun.
KUTUS KUTUS menunjukkan bagaimana cerita keluarga, akar tradisional, filosofi herbal, serta konsistensi identitas dapat berkembang menjadi positioning yang sangat kuat. Nama brand ini pada akhirnya tidak hanya dikenal sebagai produk, tetapi juga sebagai simbol perjalanan hidup, tradisi, dan pengalaman yang dipercaya banyak orang.
Konsistensi seperti ini memiliki pengaruh besar terhadap terbentuknya brand awareness. Ketika sebuah merek memiliki positioning yang jelas dan identitas yang terus dijaga secara konsisten, publik akan lebih mudah membangun asosiasi yang kuat terhadap brand tersebut.
Pada akhirnya, kekuatan sebuah merek tidak selalu lahir dari besarnya perusahaan atau mahalnya iklan yang digunakan. Kadang justru muncul dari cerita sederhana yang dibangun secara konsisten, dipercaya dari waktu ke waktu, lalu perlahan berkembang menjadi sebuah legenda.
Karena itu, merek bukan sekadar nama dagang atau identitas visual semata. Merek adalah aset yang menyimpan reputasi, persepsi, pengalaman, dan nilai emosional yang dalam jangka panjang dapat menjadi salah satu kekuatan terbesar sebuah bisnis.
IndoTrademark
IP Law & Brand Strategy