Di era media sosial dan budaya konsumsi cepat seperti sekarang, brand kuliner terus bermunculan dengan berbagai konsep kreatif. Namun, hanya sedikit yang benar-benar mampu membangun identitas yang kuat sekaligus terasa dekat dengan konsumennya. Salah satu contoh menarik dalam perkembangan brand kuliner modern di Indonesia adalah Eatlah.
Didirikan pada tahun 2016 oleh Michael Chrisyanto bersama Charina Prinandita dan Riesky Vernandes, Eatlah berkembang dari konsep sederhana: menghadirkan comfort food bergaya Singapura yang familiar namun tetap memiliki sentuhan modern. Melalui menu andalannya, salted egg chicken rice, Eatlah menjadi salah satu pelopor yang ikut mempopulerkan tren salted egg di Indonesia hingga berkembang luas di pasar kuliner urban.
Menu tersebut kemudian tidak hanya berfungsi sebagai produk unggulan, tetapi juga menjadi identitas yang sangat melekat dengan brand Eatlah dan membantu mempercepat pengenalannya di pasar.
Menariknya, kekuatan Eatlah tidak semata-mata terletak pada produknya, tetapi pada bagaimana brand ini membangun komunikasi yang ringan, kasual, dan relevan dengan gaya hidup urban modern.
Salah satu elemen yang cukup menonjol adalah pemilihan nama mereknya. “Eatlah” merupakan kombinasi kata “eat” dengan partikel “lah” yang populer dalam percakapan informal masyarakat Asia Tenggara, khususnya Singapura dan Malaysia. Dalam perspektif branding, pendekatan seperti ini sangat efektif karena terasa akrab, mudah diucapkan, dan memiliki nuansa conversational yang kuat.
Nama dengan karakter seperti ini cenderung lebih cepat tertanam dalam memori publik dibanding nama yang terlalu panjang atau formal. Ada kesan santai dan spontan, tetapi tetap memiliki identitas yang khas.
Dalam branding modern, aspek tersebut menjadi semakin penting karena sebuah merek tidak lagi hanya hadir di papan toko atau kemasan produk. Brand kini hidup di media sosial, caption, video pendek, hashtag, hingga percakapan sehari-hari. Karena itu, nama yang ringan secara verbal sering kali memiliki keuntungan besar dalam membangun awareness.
Secara visual, nama Eatlah juga memiliki struktur yang fleksibel untuk berbagai kebutuhan desain. Bentuknya singkat, bersih, dan mudah diaplikasikan pada logo, signage, kemasan, maupun konten digital. Hal-hal seperti ini sering terlihat sederhana, padahal memiliki pengaruh besar terhadap konsistensi identitas brand.
Kata “Eatlah” memiliki nuansa percakapan sehari-hari yang terasa spontan, santai, dan sedikit playful. Dalam konteks branding modern, pendekatan seperti ini cukup efektif karena mampu menciptakan kesan yang lebih personal dan mudah diterima audiens muda yang akrab dengan budaya media sosial serta komunikasi informal.
Pemilihan nama seperti ini juga menunjukkan bagaimana bahasa populer dapat diolah menjadi identitas brand yang kuat tanpa kehilangan karakter profesionalnya. Ada unsur familiar, tetapi tetap memiliki keunikan fonetik dan ritme pengucapan yang membuatnya lebih mudah menempel dalam ingatan publik.
Di tengah persaingan brand kuliner yang sangat padat, karakter verbal seperti ini sering menjadi faktor penting dalam membangun kedekatan emosional sekaligus memperkuat diferensiasi brand di pasar.
Dari perspektif hukum merek, pendekatan seperti ini juga cenderung lebih menarik karena memiliki daya pembeda yang lebih kuat dibanding penggunaan nama-nama yang terlalu konvensional, deskriptif, atau sekadar menjelaskan jenis produk secara langsung.
Keberhasilan Eatlah juga menunjukkan pentingnya konsistensi positioning. Mulai dari tampilan visual, komunikasi media sosial, desain outlet, hingga pengalaman produknya, semuanya dibangun dalam nuansa yang seragam: modern, santai, cepat, dan dekat dengan gaya hidup anak muda perkotaan.
Pada akhirnya, Eatlah menunjukkan bahwa branding yang efektif tidak selalu harus rumit. Sering kali, kekuatan terbesar justru lahir dari sesuatu yang terasa sederhana, natural, dan mudah terhubung dengan keseharian konsumennya.
Karena itu, membangun merek seharusnya tidak dipandang hanya sebagai urusan formalitas pendaftaran. Sebuah merek pada dasarnya merupakan identitas bisnis jangka panjang yang perlu dirancang secara strategis, baik dari sisi branding maupun perlindungan hukumnya.
IndoTrademark
IP Law & Brand Strategy